Gomen bwt yg ke'tag dan untag *ojigi* Yg gak suka lngsung untag aja grin emotikon
Konnichiwa minna-san grin emotikon Ada yg kgn dg fic ONESHOOT Sasha ??? Keg gk ada deh *pundung* Oke deh,kali ini Sasha balik dg fic oneshoot.Dn fic ini terinspirasi dr Ost.Naruto.Sasha plg suka klo bwt fic yg berbau ost.Naruto.Soalnya emg sasha anknya suka musik *gk ada yg nanya* Sasha tau kok,klo kemampuan sasha ini jauh dr senpai2 semuanya frown emotikonKrna itu,sasha akan berusaha ! Mohon bantuaannya *ojigi*
-
-
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Tittle : Sayonara Memory
Rate : T+
Pair : Sasusaku
Genre : Romance,drama,tragedy
Story by : Natasya Salsabiila a.k.a Sasha
Warning : Konflik nya udah pasaran,alurnya juga,bahasanya kurang kena,feelnya juga krg dpt.Mungkin ada typo_- dn msh banyak lg kekurangan Sasha yg lainnya.
-
-
Sayonara Memory
-
"Kalau klik,langsung saja dekati.Tidak usah bertele-tele lagi.Kepalaku sudah cukup pusing untuk mendengarkan semua ocehanmu itu Ino !" ucap Sakura yang akhirnya angkat bicara setelah terdiam cukup lama.Sebenarnya dari tadi ia hanya menyimak dan mendengarkan kicauan Ino saja.Sambil sesekali mengaduk-ngaduk jus strawberry yang dipesannya beberapa saat yang lalu.
"Aish ! Dasar Forehead ! Kau tahu kan ,Shikamaru itu pemalas.Mana mungkin aku menerima tawarannya untuk pergi bersama ke pesta tahun baru itu ?! Bisa-bisa aku terus dibatangi olehnya ! Dan aku tidak suka itu ! Kau tahu itu kan Sakura sayyoonngg ??!!" sahut Ino dengan gemasnya.
Sementara Sakura hanya menghela napas pasrah.Ia tahu benar alasan kenapa Ino,yang notabene sahabat sejatinya ini,sangat pilih-pilih perihal pasangan.Walaupun hanya untuk pasangan ke pesta perayaan tahun baru yang diadakan oleh Naruto,teman sekelasnya.Itu semua berawal saat Ino menemuinya dalam keadaan yang kacau.Baik dari penampilan ataupun yang lainnya.Kantung mata tebal,rambut acak-acakan,jejak air mata mengering di pipinya,bahkan manik aquamarine yang biasanya cerah terlihat meredup.Siapa yang tidak khawatir kalau mendapati sahabatnya seperti itu ?
Dan ternyata semua itu karena ulah Sai,manta kekasih Ino.Saat itu Ino memergoki Sai tengah bercumbu dengan gadis lain.Padahal saat itu Sai membatalkan kencannya dengan Ino.Apa alasan yang dipakai oleh Sai ? Sedang ada keadaan darurat.Dan ternyata keadaan darurat itu adalah bercumbu dan berselingkuh dengan gadis lain ! Bravo ! Dan well,saat itu tak ada satu pun yang terlontar dari bibir tipis Ino.Air matanya langsung jatuh,dan ia terisak dalam diam.Tak butuh waktu lama untuknya pergi meninggalkan tempat laknat itu.
Masalah Shikamaru . . . Ino hanya menjadikan pria nanas itu pelampiasan saja.Sebenarnya Ino masih menyimpan rasa sayang yang sangat besar untuk Sai.Namun rasa kecewanya menutupi semua rasa sayang itu.Dan di sinilah Ino.Bertekad untuk mencari pria lain yang lebih dari Sai.Dan lalu menggaet lengan pria itu serta memamerkannya pada Sai bahwa ia telah salah karena berani menyelingkuhi dan menyakitinya.
"Lalu mau sampai kapan kau mencari pria khayalanmu itu Ino ?" tanya Sakura malas.
"His ! Kau tahu rencanaku kan Saki . . ." jawab Ino lemas.Tak dapat dipungkiri,bahwa ia juga lelah kalau terus-terusan mencari sosok pria yang dapat membungkam mulut lemes Sai.
"Aku tahu.Dan aku juga sangat paham kalau Shikamaru adalah pria yang baik.Tentunya di balik sifat pemalasnya itu." ucap Sakura yang lalu menyeruput jus pink-nya.
"Hahh,kau menang.Aku akan pergi bersamanya."
"Benarkah ??? Yeeaayyy !!" pekik Sakura antusias.
"Saku,aku iri denganmu." ujar Ino sendu.Dan Sakura yang mendengar itu pun langsung terdiam.
"Aku ? Iri kenapa ?"
"Aku . . . Iri dengan hubunganmu dan Sasuke.Kalian tidak pernah terlihat bertengkar.Kurasa kalian tidak pernah mengalami gejolak apapun.Bahkan hubungan kalian tenang-tenang saja.Tidak seperti hubunganku dan Sai . . ."
DEG !! Sakura hanya tersenyum kecut untuk merespon perkataan Ino.Siapa bilang dia dan Sasuke tenang-tenang saja ? Bahkan Ino tidak tahu bahwa saat ini,hubungan Sakura dan Sasuke sedang diujung tanduk.Hubungan mereka berdua sedang diambang kehancuran.Bahkan Sakura sendiri sudah lelah untuk memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan mereka itu.Ini semua berawal dari sebulan yang lalu.Jauh-jauh ia ke villa Sasuke yang ada di Sunagakure,hanya untuk memberi kejutan ulang tahun Sasuke yang ke-23 tahun.
Namun . . . Saat ia membuka pintu villa Sasuke,tentunya dengan sebuah kue tart berukuran sedang yang ia masak sendiri dengan sepenuh hati,ia malah mendapati Sasuke,kekasih hatinya,tengah berciuman dengan gadis lain.Siapa ? Tidak tahu.Dan yang terjadi saat itu adalah kue tart tidak berdosa itu jatuh ke lantai dan berceceran kemana-mana.Harusnya hari ini,dia yang memberi kejutan untuk Sasuke.Tapi kenapa malah Sasuke yang memberinya kejutan seperti ini ?
Saat itu Sakura masih terdiam mematung.Hatinya sudah tidak karu-karuan rasanya.Antara marah,kesal,kecewa,tidak suka,benci,semuanya bercampur menjadi satu.Bahkan sampai Sakura terisak pun,Sasuke sama sekali tidak menyadari kehadiran Sakura.Ia masih saja berciuman mesra dengan gadis bercepol itu.Siapa sih yang tidak sakit hati kalau kekasihnya selingkuh tepat di depan matanya sendiri ? Apalagi sampai kekasihnya itu belum menyadari keberadaan Sakura.
Langsung saja Sakura pergi meninggalkan villa ini dengan membanting pintu.Mungkin saking kerasnya bisa menyadarkan dua manusia yang sedang terlarut oleh kegiatan itu.Terbukti setelah Sakura sampai di gerbang,terdengar teriakan Sasuke yang memanggil namanya.Dan Sakura tidak akan berhenti.Ia malah terus menambah kecepatan jalannya.Bahkan ia mulai berlari-lari untuk meninggalkan tempat terkutuk ini.Jangan tanya lagi apakah Sakura menangis.Sudah pasti dan sudah jelas jawabannya.Bahwa Sakura menangis ! Untung saja ia sambil berlari,jadi tidak terlalu tertangkap basah kalau ia sedang menangis.
"Hei,Forehead ! Kau ini kenapa sih ! Daritadi aku bicara,tapi kau malah melamu.Hufftt !" ujar Ino sebal,setelah sesaat sebelumnya ia menyikut Sakura dan membuyarkan semua lamunannya.
"E-eh gomen.Aku hanya lelah.Ayo kita ke kelas.Sebentar lagi dosen killer itu akan masuk kelas." ucap Sakura yang lalu berdiri dan mulai beranjak dari kantin.Tanpa Sakura sadari,ia tengah diawasi oleh sepasang Onyx gelap milik Sasuke.Bukan.Bukan tatapan mengintimidasi seperi biasanya.Melainkan tatapan sendu dan merasa bersalah.
***
Di sinilah Sakura berada.Duduk di bangku penumpang karena memang sudah beberapa saat yang lalu ia pulang sekolah.Lalu dimana ia sekarang ? Dimana lagi kalau bukan di dalam mobil mewah milik Uchiha Sasuke,sang kekasih.Tapi . . . Bukan itu saja yang membuatnya hanya terdiam sambil menatap jalanan lewat kaca mobil.Ia hanya tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini.Terlebih lagi,sejak saat itu,suasana canggung diantara dirinya dan Sasuke kian membesar.
"Apa kau tidak ingin makan dulu ?" tanya Sasuke yang sedikit menoleh ke arah Sakura,yang notabene duduk di sampingnya.
Sementara Sakura yang mendengar perrtanyaan Sasuke hanya menggeleng singkat.Tanpa sedikit pun menoleh atau melirik Sasuke.Sudah basi pertanyaan itu ! Kenapa tidak dari dulu-dulu saja pertanyaan itu terlontar untuknya ? Kenapa baru sekarang ??!! Hahh,bahkan untuk duduk di samping pria emo itu saja Sakura masih berpikir dua kali.Sebenarnya ya dia bisa saja memutuskan hubungan pertunangan diantara dirinya dan Sasuke.Tapi kalau itu dia lakukan,bagaimana dengan keadaan keluarganya dan keluarga Sasuke ? Apalagi kedua orang tua mereka memang sudah bersahabat sejak duduk di bangku sekolah.
"Apa tidak ada yang ingin dibeli ?" tanya Sasuke lagi mencoba mencairkan suasana.
Sakura mengeleng kecil.Dan Sasuke yang mendapati respon Sakura itu hanya bisa menghembuskan napas pasrah.Dia tahu dan sangat tahu.Bahwa ini semua memang salahnya.Salahnya yang waktu itu malah menduakan Sakura.Harusnya dia itu sadar,kalau rasa cinta dan sayang Sakura untuknya sangat besar.Sasuke juga tahu,bahwa sebenarnya . . . Sakura sama sekali belum memaafkannya.
Waktu itu memang hubungannya dengan Sakura mulus-mulus saja.Bahkan terkesan sangat datar.Bagaimana tidak ? Hampir setiap kelakuannya,Sakura tidak pernah mengeluh ataupun memarahinya.Bukannya Sasuke itu tidak tahu kalau Sakura begitu karena gadis itu pengertian terhadap dirinya.Tapi kalau hampir 3 tahun seperti itu terus ? Siapa yang tidak bosan ? Karena itulah dia mencoba berpetualang mencari gadis lain.Dan ia menemukan Tenten.Seorang gadis bercepol yang jago karate.
Saat itu kira-kira seminggu setelah kejadian di villa itu.Sakura muncul di rumah Sasuke.Dengan air muka dan cahaya manik yang sudah tidak karu-karuan lagi.Sasuke tahu,pandangan itu merupakan pandangan kesakitan dari seorang gadis.Hati Sasuke langsung terhenyak.Batinnya teriris melihat manik sendu itu.Ini salahnya ! Iya ! Bukanya Sasuke tidak meminta maaf pada Sakura.Sudah hampir setiap hari,Sasuke selalu mengganggu Sakura dengan perkataan maafnya.Dan Sakura juga selalu menjawab 'iya'.
"Aku minta maaf Sakura." ucap Sasuke akhirnya.Ia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa agar gadis pinky ini bisa kembali ceria seperti sedia kala.
"Iya." Jawab Sakura cepat tanpa menoleh ke arah Sasuke.
"Tapi kenapa sikapmu masih seperti ini padaku ?!" tanya Sasuke dengan nada yang mulai meninggi.
Sakura menoleh,menatap lekat obsidian Sasuke.Ia tahu dan sangat tahu.Sasuke pasti sedang menahan kesal untuk saat ini.Tunangan dengannya selama 3 tahun menjadikan Sakura mengerti dan paham akan sikap Sasuke."Tanyakan pada dirimu sendiri." ucap Sakura dan lalu menatap jalanan lagi.
Sasuke yang mendengar itu pun langsung menepikan mobilnya.Ia menatap Sakura yang masih setia memandang keluar jendela.Walaupun saat ini mereka dalam posisi berhenti.Dada Sasuke terasa nyeri saat melihat keadaan Sakura saat ini.Sekuat-kuatnya Sakura,ia juga pasti pernah terpuruk dan rapuh.Mungkin saat ini adalah saat baginya untuk rapuh.Sasuke hanya tersenyum masam mendapati keadaan hubunganya yang kini diambang kehancuran.
"Tak bisakah kau memberiku kesempatan ?" tanya Sasuke lirih.
"Untuk apa ?" tanya Sakura.
"Tatap aku kalau sedang berbicara denganku Sakura." ucap Sasuke serius.
"Untuk apa ?" tanya Sakura lagi.
"Aku serius Haruno !" sentak Sasuke.
"Untuk apa ?" tanya Sakura yang masih setia memandang ke luar kaca mobil.
Dan Sasuke langsung memukul setir mobilnya dengan keras.Ia frustasi.Ia tahu bagaimana sakitnya Sakura.Tapi ia juga merasa sakit kalau diperlakukan seperti ini oleh Sakura.Tidak.Memang seharusnya dia pantas diperlakukan seperti ini oleh Sakura.Harusnya dia tidak menyia-nyiakan Sakura.Dia menyesal telah melepas sosok Sakura begitu saja.Sakura itu gadis yang menerima dirinya apa adanya.Gadis itu juga selalu mengerti dirinya.Sasuke tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Sakura.Ia tidak ingin kehilangan gadis itu.
"Aku mencintaimu." Lirih Sasuke.
"Untuk apa mencintaiku kalau hanya untuk membuatku seperti ini ?" Tanya Sakura sendu.DEG ! Sasuke terpaku di tempatnya saat ini.Kata-kata itu begitu menusuk hatinya.
"Sakura-"
"Untuk apa ? UNTUK APA AKU HARUS MENURUTI KATA-KATAMU ITU UCHIHA ?!" Bentak Sakura yang langsung menatap lekat Onyx Sasuke.
"Sakura,maafkan aku." Ucap Sasuke sambil menyentuh puncak kepala Sakura.Namun . . .
PLAKK ! Sakura menampik kasar tangan kekar itu.Bahkan Sakura kini memandang Sasuke dengan tatapan sengit dan bengis.Hatinya sudah sangat sakit.Jangankan untuk melihat,bahkan untuk duduk berdua saja dengan Sasuke sudah membuat dadanya terasa sesak dan nyeri.Jadi sekarang,ia hanya ingin tenang.Sebentar saja,ia ingin memikirkan semuanya.Memikirkan apa yang akan diperbuatnya nanti.Tak dapat dipungkiri,bahwa pikirannya masih kalut sampai saat ini.
"Kalau tidak mau mengantarku pulang,aku akan turun.Lagipula tadi aku sudah menolakmu." ucap Sakura dan lalu kembali menatap keluar kaca mobil.Bahkan saat ini pandangannya terlihat semakin kosong.Dan Sasuke yang mendengar perkataan Sakura itu hanya bisa menelan pil pahit.Saking pahitnya,akhirnya Sasuke pun melajukan mobilnya membelah jalanan.Entah apa yang akan terjadi selanjutnya pada hubungan mereka ini.
***
"Apa aku keterlaluan pada Sasuke ya ?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan blazer universitas yang masih melekat di tubuh sintalnya.Begitu ia sampai ke rumah beberapa saat yang lalu,tentunya dengan diantar Sasuke,ia langsung saja membanting tubuhnya itu ke kasurnya.Sakura kini terlihat seperti seseorang yang sedang rustasi.Sepertinya.
"Aih ! Apa sih aku ini ! Harusnya Sasuke pantas diperlakukan seperti itu ! Hih,salah dia sendiri kan menyakitiku seperti itu !!" decak Sakura sebal.Terlihat dengan bibir peach-nya yang mengerucut.
"Tapi . . . Aku juga butuh Sasuke . . ." lirih Sakura yang lalu merubah posisi tidurnya menjadi miring.Setelah sebelumnya dalam posisi telentang.
Sakura lalu merogoh saku blazernya.Mencari benda persegi panjang berwarna salem miliknya.Apalagi kalau bukan ponselnya ? Well,Sakura kini bimbang.Ia hanya bingung.Harus memberikan Sasuke kesempatan kedua atau tidak.Kalau iya,berarti ia harus menyiapkan stok hati yang banyak.Kalau tidak,mungkin dia akan menyiapkan stok tisu yang banyak.Selain itu,apa kata keluarganya kalau tiba-tiba ia menyatakan ingin putus tunangan dengan Sasuke ? Ia hanya tidak ingin membuat ayah dan ibunya kecewa padanya.Terlebih lagi,Sasuke adalah anak dari sahabat ayah dan ibunya sewaktu masih sekolah.Hahh,hidup Sakura benar-benar merepotkan.
"Apa kumulai semuanya dari awal ?" gumam Sakura seraya terus memainkan ponsel yang kini sudah tergantung di tangannya.
"Ya sudahlah.Aku coba saja.Semoga saja ia benar-benar serius kali ini . . ." lirih Sakura disertai degan senyum hambar yang melekat di wajah ayunya.
To : Sasuke-kun
Besok jemput aku jam 7 malam.Kita pergi ke pesta tahun barunya Naruto.
Send.Sakura lalu membanting ponselnya.Bukan.Bukan ke lantai.Melainkan hanya ke kasur saja.Semoga saja keputusannya untuk kembali membuka hatinya benar.Dan semoga saja Sasuke paham maksud tersirat itu dari pesan singkat yang baru saja dikirimnya.Entahlah.Menjadi dirinya memang merepotkan.Selalu dikelilingi oleh hal-hal yang memusingkan seperti ini.Sakura lalu bangkit dan ia mulai mengganti baju seragamnya dengan baju sehari-hari.
Lalu ia kembali tiduran di atas kasurnya.Namun tak berselang lama,ponselnya bergetar.Menandakan ada sebuah pesan singkat yang masuk.Apakah Sasuke ? Entahlah.Langsung saja Sakura mengecek ponsel salem miliknya itu.Dan seketika,senyum manis yang akhir-akhir ini jarang merekah di wajahnya,langsung mengembang.Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya kala ia membaca pesan singkat itu.Terdengar berlebihan memang.Tapi itulah yang dirasakannya.Bahkan seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan di perutnya.Aneh ya ? Itulah Sakura.
.
.
.
From : Sasuke-kun
Hn.Arigatou Sakura.Aku tidak akan mengulanginya lagi.Dan aku jera atas perbuatanku.
***
Di sinilah Sakura.Berputar-putar di depan cermin besar yang tergantung di dinding kamarnya.Ia kini terlihat sangat manis.Dengan dress selutut berwarna salem yang membungkus tubuh sintalnya.Polesan make up tipis nan natural juga turut mengambil alih wajahnya.Rambut permen kapas yang biasanya diikat satu,kini tergerai.Menambah kesan imut pada Sakura.Ah,jangan lupakan sepatu kain tanpa hak yang melekat di kakinya.Well,Sakura benar-benar terlihat seperti seorang Cinderella malam hari ini.Akan tetapi,ia hanya merasa kurang percaya diri untuk bertemu dengan Sasuke.
Sontak kedua pipi ranum Sakura merona.Sudah lama ia tidak pergi bersama Sasuke.Bahkan jantungnya dari tadi tak henti-hentinya berdegup dengan kencang.Rasa ini seperti yang ia rasakan dulu sewaktu pertama kali berkencan dengan Sasuke.Memang berlebihan,tapi itulah yang terjadi.Ia seperti anak muda yang sedang kasmaran kalau begini.Ia hanya merasa ada yang kurang.Tapi apa ? Nihil.Daritadi ia berputar-putar di depan cerminnya tak ada yang kurang satu pun.Baiklah,kini saatnya menunggu Sasuke.
10 menit berlalu . . .
15 menit berlalu . . .
25 menit berlalu . . .
30 menit berlalu . . .
"Sasuke-kun kemana sih ? Apa kutelpon saja ya ?" tanya Sakura pada dirinya sendiri.Tak butuh waktu lama,ia langsung menelpon Sasuke.
"Sasuke-kun ?"
"Ano,gomen Sakura."
"Kau kenapa ?" tanya Sakura khaatir.Takut terjadi apa-apa pada Sasuke.
"Aku baik-baik saja.Tapi aku tidak bisa pergi,aku ada urusan mendadak." ucap Sasuke.
"Oh,begitu."
"Kau tak apa ?" tanya Sasuke memastikan.
"Iya,aku tidak apa-apa.Hati-hati di jalan Sasuke-kun.Semoga urusanmu cepat selesai." ujar Sakura.
"Hn.Arigatou Sakura."
Dan sambungan telepon itu diputus oleh Sakura.Hahh,tidak jadi berangkat ya ? Lalu mau diapakan penampilan sempurna sang Sakura malam ini ? Apa langsung tidur saja ? Oh tentu tidak.Butuh waktu lama untuk membuat penampilan Sakura ini.Dan seketika itu,senyum Sakura mengembang.Tak apa kalau Sasuke memang tidak bisa pergi bersamanya,mungkin Sasuke sedang ada masalah perihal perusahaan keluarganya.Karena itu,Sakura memutuskan untuk menonton film di bioskop saja.
.
.
.
Terlihat Sasuke tengah mengacak-ngacak rambut ravennya frustasi.Harusnya kali ini dia dan Sakura pergi ke acara perayaan tahun baru yang diadakan oleh Naruto.Tapi tiba-tiba saja,waktu ia sudah siap melajukan mobilnya untuk ke rumah Sakura,ponselnya berbunyi.Siapa ? Tenten ! Gadis bercepol yang sempat menjadi pelampiasannya.Oh ayolah,bahkan ia sudah memutuskan hubungan dengan gadis itu.Namun hal itu sirna saat Tenten bilang ingin bertemu dengan Sasuke untuk yang terakhir kalinya.Karena besok ia harus pindah ke Sunagakure.
Dan Sasuke memutuskan untuk menemui Tenten.Bagaimana pun juga,dialah yang membuat Tenten terlibat dengan hubungan asmaranya.Kalau begini,secara tidak langsung ia telah menyakiti hati 2 orang gadis sekaligus.Karena itu,ia ingin bertanggung jawab dan benar-benar mengakhiri semuanya.Ia benar-benar sudah kapok untuk menduakan Sakura.Ia tidak akan pernah bisa hidup kalau tanpa Sakura.
"Tck ! Menyebalkan." desis Sasuke sambil terus melajukan mobilnya menuju kafe,tempat janjiannya dengan Tenten,tanpa sedikit pun tahu bahwa kali ini ia akan benar-benar menyesal seumur hidup.
***
"Ah,film-nya bagus sekali." ucap seorang lelaki pada Sakura.
"Iya,benar ! Sangat bagus ! Aku sampai terharu !" ujar Sakura.
"Ano,aku duluan ya.Jaa Sakura." ucap pria bernama Sasori itu.
"Jaa ne Sasori." balas Sakura pada Sasori,pemuda yang tadi duduk di sebelahnya saat menonton film.Sebenarnya tidak sesederhana itu.Tadinya,pop corn yang dibeli oleh Sakura tumpah.Ingin sekali ia membeli lagi,namun film-nya sudah diputar.Dan lalu,Sasori-lah yang membagi pop corn miliknya pada Sakura.Alhasil,mereka jadi akrab dan keterusan sampai film usai.
"Aku lapar." gumam Sakura yang lalu menyeberang jalan.Memang saat ini ia sedang berada di pusat kota Konoha.Jadi saat ini suasananya betul-betul ramai.Apalagi menjelang tahun baru seperti ini.Dan saat ini juga banyak toko-toko yang masih buka,karena itu sangat benar kalau Sakura memilih untuk berjalan-jalan di sini.
Langkah kaki Sakura membawanya menyusuri deretan pertokoan.Ia hanya ingin mencari sebuah kafe,dan lalu mengisi perutnya yang lapar.Kedua Emerlad cerahnya pun menelisik kesana-kemari guna mencari tempat tujuan.Dan voila ! Emerlad-nya menangkap sebuah kafe favoritnya di seberang jalan.Tanpa babibu lagi,Sakura langsung melenggang pergi ke sana.Bahkan ia menyeberang jalan dengan terburu-buru karena saking tidak sabarnya.Sampai . . .
DEG !! Sakura menangkap sosok Sasuke dan gadis bercepol itu lagi.Mereka berdua tampak mengobrol di salah satu meja di dalam kafe favoritnya.Memang di kafe itu terdapat kaca tembus pandang.Jadi siapa pun bisa melihat seperti apa isi kafe dari luar.Mata Sakura langsung memanas.Jadi ini urusan mendadak Sasuke ? Kencan dengan gadis itu ? Dan detik berikutnya,isakan kecil pun meluncur dari bibir tipis Sakura.Ia masih mematung di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berlalu lalang di sini.Hatinya terlalu sakit untuk sekedar merespon ini semua.
.
.
.
"Sudahlah Tenten.Kita sudah berakhir.Jadi kumohon dengan sangat,jangan ganggu aku dan Sakura." ucap Sasuke serius.
"Iya,aku tahu.Karena itu,aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya.Bagaimanapun juga,aku sangat mencintaimu Sasuke-kun." ujar Tenten sendu.
"Cukup.Jangan memanggilku seperti itu.Hanya Sakura yang boleh memanggilku seperti itu." ucap Sasuke tidak terima.Dan hal ini sukses membuat Tenten tersenyum masam.
"Oh begitu ya.Gomen kalau begitu." ujar Tenten sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Baiklah.Aku pulang-"
DEG ! Jantung Sasuke serasa berhenti saat ia menangkap sosok Sakura yang tengah menangis di tengah-tengah orang-orang yang berlalu lalang.Apalagi kedua manik Sakura itu mengarah ke . . . Sini.Tepat ke tempat dirinya dan Tenten berbincang-bincang.Tidak ! Ini tidak boleh terjadi.Ia tidak akan membuat Sakura sakit lagi.Ini harus diluruskan.Iya !Harus ! Langsung saja Sasuke beranjak meninggalkan Tenten seorang diri di kafe ini.Ia hendak mengejar Sakura yang kini sudah berlari.
***
"Hiks,hiks,hiks." Isak Sakura semakin menjadi kala ia sudah duduk di salah satu bangku di taman Sakura ini.Walaupun hari sudah menunjukkan pukul 11.45 malam,tapi taman ini masih terang dikarenakan memang ada acara peluncuran kembang api di sini.Dan ia memilih duduk di bangku yang terletak di bawah jembatan.Agak tersembunyi.Tapi tidak gelap sama sekali,karena cahaya lampu taman masih bisa meneranginya.
"Sakura . . ." lirih Sasuke saat melihat Sakura menangis di bangku taman,ia tidak pernah melihat Sakura menangis sampai seperti itu.Sesegukan dan sepertinya sangat sesak.
"Kenapa kau di sini ?" tanya Sakura di sela-sela tangisannya.
"Gomen Sakura,aku-"
"Cukup ! Aku sudah muak Sasuke ! Aku muak dengan semua ini !" ucap Sakura dengan nada yang sudah meninggi.
"Sa,Sakura aku-"
"Berhenti ! Kumohon jangan katakan apapun lagi ! Aku tak ingin mendengarnya !" seru Sakura sambil menutup kedua telinganya dengan tangan.
"Sakura,aku hanya-"
"KUBILANG JANGAN KATAKAN APAPUN !! BIARKAN AKU SAJA YANG BICARA SAAT INI !!" teriak Sakura.Sasuke terdiam dan memasang telinganya.
"Aku menyayangimu Sasuke.Aku bahkan tidak bisa mengacuhkanmu.Aku berpikir untuk membuka hatiku kembali untukmu.Aku mencoba memberikan kesempatan kedua untukmu.Tapi apa Sasuke ? Tapi apa ? Kau bahkan tega menduakanku lagi ! Urusan mendadak katamu ? Cih.Bertemu dengan gadis itu lagi rupanya." ucap Sakura yang menahan tangisnya.Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Sasuke untuk saat ini.Ia harus bisa membuktikan bahwa dia ini adalah gadis yang tangguh ! Bukan gadis yang cengeng !
"Sakura,aku-"
"Sasuke,diamlah !"
"Tidak bisa,aku harus-"
"AKU TIDAK MAU DENGAR !!" pekik Sakura sembari menutup kedua telinganya.Ia tidak mau mendengar ucapan Sasuke lagi,kalau kata-kata yang Sasuke lontarkan semakin membuatnya sakit.
Sakura lalu berdiri dari duduknya.Ia menghapus kasar jejak air mata di pipinya.Ia menarik napas dalam-dalam dan lalu melepas cincin tunangan yang melingkar di jari manisnya.Lalu ia menaruh cincin itu di atas bangku yang sesaat sebelumnya telah ia duduki.Dan hal ini membuat Sasuke terbelalak.Tidak ! Ini tidak boleh terjadi ! Ia tidak mau berpisah dengan Sakura ! Ini semua salahnya ! Sementara Sakura sendiri sudah mulai melangkah pergi meninggalkan Sasuke.
"Sakura,kumohon dengarkan kata-kataku !" Seru Sasuke sambil menahan tangan Sakura.
"Tidak mau ! Lepaskan aku !" Ucap Sakura dingin.Ia berontak dan lalu menepis tangan kekar Sasuke dengan kuat.
"Hanya itu yang ingin kukatakan padamu.Aku ingin pulang." Ucap Sakura yang lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Sasuke."Sayonara . . ." Dan Sakura pun benar-benar melangkah meninggalkan Sasuke.
"Ah ! HEY SAKURA !! ARRGGHH !!" Teriak Sasuke frustasi.Dan di saat yang bersmaan . . . SYUUT . . . TAR TAR TAR ! SYUUT . . . DAR ! Kembang api tanda pergantian tahun pun menghiasi langit malam.
Dan Sasuke duduk di bangku itu.Ia amati cincin yang beberapa saat lalu masih melingkar di jari Sakura.Bahkan rasanya masih hangat.Ini seperti mimpi kalau Sakura benar-benar meningalkannya.Setetes cairan bening meluncur dari sudut mata Sasuke.Walaupun hanya satu tetes,tapi mengandung kesakitan yang amat sangat.Ini semua karena kesalahannya.Sakura sudah pergi.Meninggalkan dirinya yang menyedihkan ini.
Lalu Sasuke memakai cincin Sakura itu di jarinya.Bersebelahan dengan cincin tunangan miliknya.Ia tersenyum masam.Dan lalu ia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari balik saku jasnya.Kenapa ia membawa pisau lipat ? Sebenarnya hanya untuk pertahanan dirinya saja,mengingat dia ini adalah pewaris tunggal dari perusahaan ternama.Jadi bukan hal yang mustahil kalau nyawanya diincar.Ia tatap lekat-lekat pisau itu.Kalau ia tidak bisa mempertahankan Sakura di sisinya,berarti ia gagal kan ? Jadi apa gunanya dia hidup ? Dan ia menempelkan pisau itu ke urat nadi yang ada di pergelangan tangannya.
"Sayonara Sakura . . ."
-
-
-
END
Kyyyyaaaa !!! Apa ini *pundung* Haha,Sasha hanya balik ke jati diri sasha.Yaitu membuat fic oneshot.Entah kpn Sasha terakhir bkin oneshoot_- terlalu sibuk mikirin yg multichap soalnya *tepar* Okeh,see you next time yaaa~ Kalian semua luar biasa